A. Pengertian Model Pembelajaran Advokasi
Model Pembelajaran Advokasi merupakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered advocacy learning) sering diidentikkan dengan proses debat. Pembelajaran advokasi dipandang sebagai suatu pendekatan alternatif terhadap pengajaran didaktis di dalam kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari isu-isu sosial dan personal melalui keterlibatan langsung dan partisipasi pribadi. Model pembelajaran advokasi menuntut para peserta didik terfokus pada topik yang telah ditentukan sebelumnya dan mengajukan pendapat yang bertalian dengan topik tersebut.
read more....
Jadi pada dasarnya model pembelajaran advokasi sangat berharga untuk meningkatkan pola pikir dan perenungan, terutama jika peserta didik dihadapkan mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan mereka sendiri. Hal ini juga merupakan pembelajaran debat yang secara aktif melibatkan setiap peserta didik di dalam kelas tidak hanya mereka yang berdebat.
13
B. Prinsip-prinsip Model Pembelajaran Advokasi
Belajar advokasi berdasarkan berbagai prinsip belajar yakni:
1) Ketika peserta didik terlibat langsung dalam penelitian dan penyajian debat, ke Aku-annya lebih banyak ikut serta dalam proses dibandingkan dengan situasi ceramah tradisional.
2) Proses debat meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik karena hakikat debat itu sendiri.
3) Para peserta didik terfokus pada suatu isu yang berkenaan dengan diri mereka kadang-kadang yang berkenaan dengan masyarakat luas dan isu-isu sosial personal.
4) Pada umumnya peserta didik akan lebih banyak belajar mengenai topik-topik mereka dan topik-topik lainnya bila mereka dilibatkan langsung dalam pengalaman debat.
5) Proses debat memperkuat penyimpangan (retention) terhadap komponen-komponen dasar suatu isu dan prinsip-prinsip argumentasi efektif.
6) Belajar advokasi dapat digunakan baik belajar di sekolah dasar maupun belajar di sekolah lanjutan. Berdasarkan tingkatan peserta didik, model ini dapat diperluas atau disederhanakan pelaksanaannya.
7) Pendekatan intruksional belajar advokasi mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam logika, pemecahan masalah, berfikir kritis, serta komunikasi lisan maupun tulisan. Selain dari itu, model belajar ini akan mengembangkan aspek afektif, seperti konsep diri, rasa kemandirian, turut memperkaya sumber-sumber komunikasi antar pribadi secara efektif, meningkatkan rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat, serta melakukan analisis secara kritis terhadap bahan dan gagasan yang muncul dalam debat.[1]
C. Pelaksanaan Belajar Berdasarkan Advokasi
Adapun langkah-langkah dasar pelaksanaan advokasi dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
a. Memilih suatu topik debat berdasarkan pertimbangan aspek kebermaknaannya, tingkatan peserta didik, relevansinya dengan kurikulum, dan minat para peserta didik.
b. Memilih dua regu debat, masing-masing dua peserta didik tiap regu untuk tiap topik dan menjelaskan fungsi tiap regu kepada kelas.
c. Menyediakan petunjuk dan asistensi kepada peserta didik untuk membantuk menyiapkan debat.
d. Dalam pelaksanaan debat, para audience melakukan fungsi observasi khusus selama berlangsungnya debat.[2]
e. Setelah semua peserta didik mendengarkan argumen pembuka, hentikan debat dan suru mereka kembali ke sub kelompok awal mereka. Perintahkan sub-sub kelompok untuk menyusun strategi dalam rangka mengkonter argumen pembuka dari pihak lawan. Sekali lagi, perintahkan sub kelompok memilih juru bicara, akan lebih baik bila menggunakan orang baru.
f. Perintahkan para juru bicara yang duduk berhadap-hadapan untuk memberikan argumentasi tandingan. Dan ketika debat berlanjut (pastikan untuk menyelang-nyeling antara kedua belah pihak), anjurkan peserta lain untuk memberikan catatan yang memuat argumen tandingan atau bantahan kepada pendebat mereka. Juga, anjurkan mereka untuk memberi tepuk tangan atas argumen yang disampaikan oleh perwakilan tim debat mereka.
g. Pada saat debat berakhir, usahakan agar tidak menyebut pemenangnya, dan perintahkan peserta didik untuk kembali berkumpul membentuk satu lingkaran. Pastikan untuk mengumpulkan peserta didik dengan duduk bersebelahan dengan peserta didik yang berasal dari peihak lawan debatnya. Lakukan diskusi dalam satu kelas penuh tentang apa yang didapatkan oleh peserta didik dari persoalan yang telah diperdebatkan. Juga perintahkan peserta didik utuk mengenali apa yang menurut mereka merupakan argumen terbaik yang dikemukakan oleh kedua belah pihak.[3]
Dalam proses debat terdapat dua regu, yakni regu yang mendukung suatu kebijakan (affirmative) dan regu lawannya ialah regu oposisi (negatif). Masing-masing regu menyampaikan pandangan/ pendapatnya disertai dengan argumentasi, bukti, dan berbagai landasan, serta menunjukkan bahwa pandangan pihak lawannya memiliki kelemahan, sedangkan pendapat regunya sendiri adalah yang terbaik. Tiap regu berupaya menyakinkan kepada pengamat, bahwa pandangan/pendapat regunya paling baik dan harus diterima. Jadi, tiap regu bertanggung jawab secara menyeluruh atas posisi regunya, disamping adanya tanggung jawab dari setiap anggota regu.
Disamping itu masing-masing regu mempunyai peranan yang berbeda-beda saat debat berlangsung dalam proses belajar mengajar. Adapun peranan tersebut digambarkan sebagai berikut :
a. Peranan Regu Pendukung
Esesnsi regu pendukung (affirmative) adalah menyatakan “ya“ terhadap proposisi. Pendukung menghendaki perubahan dari status quo dan merekomendasikan suatu kebijakan untuk diapdosikan. Tanggung jawab dari regu pendukung ialah mengklarifikasi makna proposisi dengan cara mendefinisikan istilah-istilah yang samar-samar atau belum jelas, sedangkan istilah yang sudah dipahami tidak perlu didefinisikan.
Tanggung jawab berikutnya adalah menyajikan prima fasie case bagi posisi mereka. Pada awal pembicaraan atau penampilan pihak pendukung menyajikan berbagai alasan dan memberikan bukti-bukti sehingga perubahan sangat dibutuhkan. prima fasie case ini pada gilirannya merangsang kegiatan debat selanjutnya, jika tidak maka berarti kelompok dianggap menang dan debat berakhir.
Pada waktu menyampaikan prima fasie case, pendukung perlu mengisolasikan isu-isu, merumuskannya menjadi masalah yang dipertentangkan, dan kemudian mensubtansikan masalah tersebut dengan bukti dan logika. Suatu isu dalam debat merupakan suatu pertanyaan pokok tentang fakta atau teori yang akan membantu menetapkan keputusan akhir. Isu-isu tersebut adalah esensial untuk proposisi tergantung pada keputusan yang dibuat. Namun, suatu isu bukan semata-semata suatu pertanyaan melainkan suatu yang mengandung ketidaksetujuan dan bersifat krusial.
b. Peranan Regu Penentang (oposisi)
Regu penentang (negative team) menentang proposisi atas dasar sistem yang ada sekarang adalah adekuat dan efektif. Secara esensial mereka berkata “tidak“ terhadap resolusi yang diajukan oleh kelompok lawannya.
Tidak ada kebutuhan untuk mengadopsi usul yang diusulkan oleh regu pendukung. Mereka mempertahankan sistem sekarang (status quo), menolak kebutuhan yang diutarakan oleh regu pendukung, menolak rencana yang diusulkan karena tidak dapat dilaksanakan dan tidak diinginkan.[4]
B. Tinjauan Tentang Hasil Belajar Sejarah Kebudayaan Islam
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar mengajar. Belajar itu sendiri adalah suatu proses dalam seseorang yang berusaha memperoleh sesuatu dalam bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap. Dalam hal ini penekanan hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh langsung terhadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh peserta didik untuk mencapai tujuan belajar. Perubahan itu terjadi pada seseorang dalam disposisi atau kecakapan manusia yang berupa penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh dilakukan dalam suatu waktu tertentu atau dalam waktu yang relative lama dan bukan merupakan proses pertumbuhan. Suatu proses yang dilakukan dengan usaha dan disengaja untuk mencapai suatu perubahan tingkah laku. Dan perubahan tingkah laku itu sendiri dinamakan hasil belajar.[5]
Beberapa pakar pendidikan mendefinisikan belajar sebagaimana penulis uraikan dibawah ini;
1) Menurut pandangan tradisional, belajar sekedar diartikan sebagai usaha memperoleh dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan, atau belajar adalah usaha mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman. Jadi belajar semata-mata diartikan sebagai suatu usaha yang bersifat intelektual saja. Jika yang dikumpulkan seseorang sudah banyak, praktis ia menjadi pandai. Oleh karena itu, sebagai konsekuensinya kepada anak harus diberi berbagai mata pelajaran sebanyak mungkin untuk menambah pengetahuannya, semata-mata bersifat intelektual. Aspek-aspek lain walau juga berperanan dalam pembentukan keperibadian seseorang tidak disinggung, atau mungkin tidak perlu diajarkan.
2) Kimble dan Garmezy menurutnya, belajar adalah suatu kecendrungan dalam mengubah tingkah laku yang secara relatif bersifat permanent dan sebagai hasil dari praktik yang bersifat menguatkan.[6]
3) Berdasarkan pengertian belajar yang populer saat ini bahwa, belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuaan melalui pengalaman (learning is defined as the modification of strengthening of behavior through experencing). Jadi belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami.[7]
4) Belajar adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi atau situasi-situasi di sekitar kita. Dalam menyesuaikan diri diri itu termasuk mendapatkan kecekatan- kecekatan, pengertian-pengertian yang baru dan sikap-sikap yang baru. Pandangan ini pada umumnya dikemukakan oleh para pengikut aliran behaviorisme.
5) Menurut aliran psikologi Gestalt, belajar adalah suatu proses aktif, yang dimaksud aktif disini ialah, bukan hanya aktivitas yang tampak seperti gerakan-gerakan badan, akan tetapi juga aktivitas- aktivitas mental, seperti proses berfikir, mengingat, dan sebagainya.
6) Menurut Ernest R. Hilgard, learning is the process by which an activity priginates or is change trough responding a situation. Jadi belajar adalah suatu aktivitas atau yang mengubah suatu aktivitas dengan perantaraan tanggapan kepada suatu situasi.[8]
7) James.O. Withaker mendefinisikan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman, disamping itu juga diartikan sebagai proses sebagian tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui proses latihan.[9]
Dari definisi-definisi belajar di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian belajar, yaitu;
a) Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang bayi.
c) Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu hasus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit untuk ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
d) Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek keperibadian, baik fisik maupun psikis.[10]
Jadi pada dasarnya belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar.
b. Jenis-jenis Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan prestasi atau kinerja akademik yang dinyatakan dengan skor atau nilai, pada prinsipnya pengungkapannya hasil belajar ideal itu meliputi segenap ranah psikologis yang berupa akibat pengalaman dan proses belajar.
Dalam tujuan pendidikan yang ingin dicapai kategori dalam bidang ini yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, ketiga aspek ranah tersebut tidak dapat dipisahkan karena sebagai tujuan yang hendak dicapai. Dengan kata lain tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh peserta didik dalam mencapai tiga aspek tersebut, dan ketiganya adalah pokok hasil belajar, menurut “Taksonomi Bloom” diklasifikasikan pada tiga domain, yaitu sebagai berikut:
1) Jenis hasil belajar pada bidang kognitif
Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang bersinonim dengan kata kowing yang berarti pengetahuan, dalam arti luas kognisi adalah prolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.[11] Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain atau ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.
Dengan demikian hasil belajar dalam aspek kognitif tinggi maka dia akan mudah untuk berfikir sehingga ia akan mudah memahami dan menyakini materi-materi pelajaran yang diberikan kepadanya serta mampu menangkap pelan-pelan moral dan nilai-nilai yang terkandung di dalam materi tersebut. Sebaliknya, jika hasil belajar kognitif rendah maka ia akan kesulitan untuk memahami materi tersebut untuk diinternalisasikan dalam dirinya dan diwujudkan dalam perbuatannya.
Jenis hasil belajar aspek kognitif ini meliputi enam kemampuan atau kecakapan antara lain:
a) Pengetahuan (knowladge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya.
b) Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahmi sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan di ingat.
c) Penerapan atau aplikasi (aplication)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerangkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang kongrit.
d) Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian dan faktor-faktor yang satu dengan faktor yang lainnya.
e) Sintesis (syntesis)
Adalah suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis sehingga menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.
f) Penilaian atau evaluasi (evaluation)
Adalah kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide atau kemampuan untuk mengambil keputusan (menentukan nilai) sesuatu yang dipelajari untuk tujuan tertentu.[12]
2) Jenis hasil belajar pada bidang afektif
Aspek afektif berkenaan dengan perubahan sikap dengan hasil belajar dalam aspek ini diperoleh melalui internalisasi, yaitu suatu proses kearah pertumbuhan bathiniyah atau rohaniyah peserta didik, pertumbuhan terjadi ketika peserta didik menyadari suatu hasil yang terkandung dalam pengajaran agama, dan nilai-nilai itu dijadikan suatu nilai sistem diri “nilai diri” sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku dan perubahan untuk menjalani kehidupan.
Adapun beberapa jenis kategori jenis afektif sebagai hasil belajar adalah sebagai berikut:
a) Manerima (receiving)
Yaitu semacam kepekaan dalam menerima rancangan (stimuli) dari luar yang datang dari peserta didik, baik dalam bentuk masalah situasi, gejalah, dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, kontrol dan gejalah atau ransangan dari luar.
b) Jawaban (responding)
Yaitu reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulisasi yang datang dari luar, dalam hal ini termasuk ketetapan reaksi, perasaan, kepuasan dan menujawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.
c) Penilaian (valuing)
yaitu berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejalah atau stimulus tadi, dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai tersebut.
d) Organisasi (organization)
Yaitu pengembangan nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya, yamg termasuk dalam organisasi ialah konsep nilai, organisasi dari pada sistem nilai.
e) Karakteristik (characterization)
Yaitu keterpaduan dan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola keperibadian, tingkah lakunya, disini termasuk nilai karakteristiknya.[13]
3) Jenis hasil belajar pada bidang psikomotorik
Aspek psikomotorik berhubungan dengan keterampilan yang bersifat fa’aliyah kongrit, walaupun dengan demikian hal itupun tidak terlepas dari kegiatan belajar yang bersifat mental (pengetahuan dari sikap), hasil belajar dari aspek ini adalah merupakan tingkah laku yang dapat diamati.
Adapun mengenai tujuan dari psikomotorik yang dikembangkan oleh Simpson (1966-1967) sebagai berikut:
a) Persepsi
Yaitu penggunaan lima panca indra untuk memperoleh kesadaran dalam menerjemahkan menjadi sebuah tindakan.
b) Kesiapan
Yaitu keadaan sikap untuk merespon secara mental, fisik, dan emosional.
c) Respon terbimbing
Yaitu mengembangkan kemampuan dalam aktifitas mencatat dan membuat laporan.
d) Mekanisme
Yaitu respon fisik yang telah dipelajari menjadi kebiasaan.
e) Adaptasi
Yaitu mengubah respon dalam stimulasi yang baru.
f) Organisasi
Yakni menciptakan tindakan-tindakan baru.[14]
Sedangkan menurut Gagne, hasil belajar dapat diklasifikasikan menjadi lima kategori. Adapun lima kategori tersebut sebagai berikut:
1. Keterampilan intelektual (intellectual skill)
Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang membuat seseorang berkompeten, yang memungkinkan untuk menanggapi konseptualisasi lingkungannya. Keterampilan intelektual berkaitan dengan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu aktivitas. Ada empat sub kategori hasil belajar yang merupakan keterampilan intelektuan ini yang disusun secara bertahap, dari yang paling sederhana ke yang lebih kompleks.
Adapun keempat kategori keterampilan intelektual tersebut meliputi:
a) Membedakan (discrimination)
Yaitu kemampuan peserta didik untuk membedakan benda-benda atau simbol-simbol, misalnya membedakan huruf-huruf, pengarang-pengarang angkatan tertentu, dan sebagainya.
b) Konsep (consepts)
Yaitu kemampuan peserta didik untuk mendefinisikan dan mempergunakan dengan betul konsep-konsep tentang suatu hal.
c) Aturan (rules)
Yaitu kemampuan yang memungkinkan peserta didik berbuat sesuatu dengan mempergunakan symbol dan dapat mengikuti aturan itu dalam penampilanya.
d) Aturan tingkat tinggi (higher-order rules)
Yaitu merupakan gabungan dari keterampilan-keterampilan sebelumnya yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
2. Strategi kognitif (cognitive trastegies)
Strategi kognitif merupakan kecakapan khusus yang amat penting yang memungkinkan peserta didik belajar dan menentukan sesuatu secara sendiri. Ia merupakan suatu kemampuan yang diatur secara internal yang berperan mengatur, membimbing, dan menentukan sesuatu yang akan dilakukan oleh individu yang sedang belajar seperti membaca, memahami, berfikir, dan sebagainya. Strategi kognitif merupakan kemampuan yang mengatur seseorang untuk memilih “ cara”, misalnya belajar bagai belajar, yang paling cocok untuk dirinya sendiri.
3. Informasi verbal (verbal information)
Informasi verbal adalah hasil belajar yang berupa informasi dan pengetahuan verbal. Informasi itu dapat dibedakan kedalam fakta, nama, prinsip dan generalisasi. Informasi merupak esensi suatu peristiwa yang dapat dijadikan alat berfikir dan sebagai dasar untuk belajar lebih lanjut. Kemampuan informasi dapat ditunjukkan dengan menyatakan atau menyebutkan informasi itu dalam ungkapan yang bermakna.
4. Keterampilan motor (motor skill)
Keterampilan motor adalah hasil belajar yang berkitan gerak otot seperti mengucapkan lafal-lafal bahasa, berdeklamasi, mengetik, dan sebagainya. Keterampilan motor kadang-kadang merupakan prasyarat yang perlu dikuasai untuk dapat melakukan atau mempelajari sesuatu yang lain.
5. Sikap (attitudes)
Sikap merupakan sejumlah bentuk hasil belajar tersendiri yang sering dikaitkan dengan nilai-nilain toleransi, suka membaca, mencitai sastra, kesediaan bertanggung jawab, dan sebagainya.
Pengaruh sikap terhadap seseorang adalah adanya reaksi positif dan negatif kepada orang lain, benda, atau situasi.[15]
c. Transfer Hasil Belajar
Hasil belajar dalam kelas harus dapat dilaksanakan ke dalam situasi-situasi di luar sekolah. Dengan kata lain, peserta didik dapat mentransfer hasil belajar tersebut ke dalam situasi-situasi yang sesungguhnya di dalam masyarakat.
Tentang transfer hasil belajar dalam situasi yang sesungguhnya, setidak-tidaknya ada tiga teori, yaitu:
a) Teori disiplin formal (the formal discipline theory)
Teori ini menyatakan, bahwa sikap, pertimbangan, ingatan, imajinasi, dan sebagainya dapat diperkuat melalui latihan-latihan akademis. Mata pelajaran-mata pelajaran seperti geometri, bahasa latin sangat penting dalam melatih daya piker seseorang. Dengan demikia pula halnya dengan daya piker kritis, ingatan, pengalaman, pengamatan, dan sebagainya dapat dikembangkan melalui latihan-latihan akademis.
b) Teori unsur-unsur yang identik (the identical elements theory)
Transfer terjadi apabila diantara dua situasi atau atau dua kegiatan terdapat unsur-unsur yang bersamaan (identik). Latihan ini dalam satu situasi mempengaruhi perbuatan, tingkah laku dalam situasi yang lainnya. Teori ini banyak digunakan dalam kursus latihan jabatan, dimana kepada peserta didik diberikan respon-respon yang diharapkan diterapkan dalam situasi kehidupan yang sebenarnya. Banyak para psikologi, benyak menekankan kepada persepsi para peserta didik terhadap unsur-unsur yang identik ini.
c) Teori genaralisasi (the generalization theory)
Teori ini merupakan revisi terhadap teori unsur-unsur yang identik. Tetapi generalisasi menekankan kepada kompleksitas dari apa yang dipelajari. Internalisasi daripada pengertian-pengertian, keterampilan, sikap dan apresiasi dapat mempengaruhi kelakua seseorang. Teori ini menekankan kepada pembentukan pengertian (concept formation) yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman lain. Transfer terjadi apabila peserta didik menguasai pengertian-pengertian umum untuk kesimpulan-kesimpulan umum.[16]
d. Indikator Hasil Belajar
Indikator yang dijadikan tolak ukur dalam meyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil, berdasarkan ketentuan kurikulum yang disempurnakan, dan yang saat ini digunakan adalah:
1) Daya serap terhadap bahan pelajaran yang telaj diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok.
2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran atau intruksional khusus (TIK) setelah dicapai peserta didik baik secara individu maupun secara kelompok.[17]
Demikian dua macam tolak ukur yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Namun yang banyak dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari keduanya ialah daya serap peserta didik terhadap pelajaran.
e. Tingkat keberhasilan
Setiap proses belajar mengajar salalu menghasilkan hasil belajar, masalah yang dihadapi ialah samapi tingkat mana hasil belajar yang telah dicapai, sehubungan dengan hal ini keberhasilan belajar dibagi menjadi beberapa tingkatan atau taraf, antara lain sebagai berikut:
1) Istimewa/maksimal : apabila seluruh bahan pelajaran yang telah
diajarkan dapat dikuasai oleh peserta didik.
2) Baik sekali/optimal : apabilah sebagian besar (76% - 99%) bahan
pelajaran yang telah dipelajari dapat dikuasai peserta didik.
3) Baik/minimal : apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya
(60% - 75%) dikuasai peserta didik.
4) Kurang : apabila bahan pelajaran yang telah diajarkan
kurang dari 60% yang dikuasai oleh peserta didik.[18]
Dengan melihat data yang terdapat dalam daya serap peserta didik dalam pelajaran dan presentasi hasil belajar peserta didik dalam mencapai TIK tersebut, dapat diketahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan peserta didik dan guru.
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dari peserta didik dalam proses belajarnya. Faktor tersebut dapat bersumber pada dirinya atau di luar dirinya atau lingkungan.
1) Faktor-faktor dalam diri individu
Banyak faktor yang ada dalam diri individu atau si pelajar yang mempengaruhi usaha dan hasil belajarnya. Faktor-faktor tersebut menyangkut aspek jasmaniah maupun rohaniah dari peserta didik.
Aspek jasmaniah mencakup kondisi dan kesehatan jasmaniah peserta didik tersebut. Tiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda, ada yang tahan belajar selama lima atau enam jam terus-menerus, tetapi ada juga yang hanya tahan satu dan dua jam saja. Kondisi fisik menyangkut pula kelengkapan dan kesehatan indra penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pencecapan. Indra yang paling penting dalam belajar adalah penglihatan dan pendengaran. Seseorang yang penglihatan atau pendengarannya kurang bai akan berpengaruh kurang baik pula terhadap usaha dan hasil belajarnya.kesehatan merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan belajar.
Aspek psikis atau rohaniah tidak kalah pentingnya dalam belajar dengan aspek jasmaniah. Aspek psikis menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor serta kondisi afektif dan konatif dari individu. Untuk kelancaran belajar bukan hanya dituntut kesehatan jasmaniah tetapi jugakesehatan rohaniah. Seseorang yang sehat rohaninya adalah orang yang terbebas dari tekanan-tekanan batin yang mendalam, gangguan-gangguan perasaan, frustasi, konflik psikis. Seseorang yang sehat rohaninya akan merasakan kebahagian, dapat bergaul dengan orang laindengan wajar, dapat mempercayai dan bekerjasama dengan orang lain, dan sebagainya.
Kondisi intelektual juga berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Kondisi intelektual ini menyangkut tingkat kecerdasan, bakat-bakat, baik bakat sekolah maupun bakat pekerjaan, juga penguasaan peserta didik akan pengetahuan atau pelajaran-pelajaran yang lalu.
Kondisi sosial menyangkut hubungan peserta didik dengan orang lain, baik guru dan temannya, orang tuanya maupun orang-orang yang lainnya. Seseorang yang memiliki kondisi hubungan yang wajar dengan orang-orang di sekitarnya akan memiliki ketentraman hidup, dalam hal ini akan mempengaruhi konsentrasi dan kegiatanbelajarnya. Sebaliknya seseorang yang mengalami kesulitan dalam hubungan social dengan temannya atau guru atau orang tuanya akan mengalamikecemasan, ketidaktentraman dan situasi ini akan mempengaruhi usaha belajarnya.
Hal lain yang ada pada diri individu atau peserta didik yang berpengaruh terhadap kondisi belajarnya adalah situasi efektif, selain ketenangan dan ketentaraman psikis juga motivasi untuk belajar. Belajar perlu didukung oleh motivasi yang kuat dan konstan. Motivasi yang lemah serta tidak konstan akan memnyebabkan kurangnya usaha belajar, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar.
Keberhasilan belajar peserta didik juga dipengaruhi oleh keterampilan-keterampilan yang dimilikinya, seperti keterampilan membaca, berdiskusi, memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas dll. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan hasil belajar sebelumnya.
2) Faktor-faktor lingkungan
Hasil belajar peserta didik juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar diri peserta didik, baik faktor fisik maupun sosial-psikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan, memberikan landasan dasar bagi proses belajar pada lingkungan sekolah dan masyarakat. Faktor-faktor fisik dan sosial psikologis yang ada dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan peserta anak. Termasuk faktor dalam lingkungan keluarga adalah keadaan rumah dan ruangan tempat belajar, sarana dan prasarana belajar yang ada, suasana dalam rumah apakah tenang atau banyak kegaduhan, juga suasana lingkungan di sekitar rumah.
Suasana lingkungan rumah di sekitar pasar atau terminal atau tempat-tempat hiburan berbeda dengan di daerah khusus pemukiman. Suasana lingkungan rumah di lingkungan pemukiman yang padat dan kurang merata, juga berbada dengan dengan pemukiman yang jarang dan tertata.
Tak kalah pentingnya dengan lingkungan fisik adalah kondisi dan suasana social psikologis dalam keluarga. Kondisi dan suasana ini menyangkut keutuhan keluarga, iklim psikologis, iklim belajar dan hubungan antar anggota keluarga. Keluarga yang tidak utuh, baik secara struktural maupun fungsional, kurang memberikan dukungan positif terhadap perkembangan belajar. Ketidak utuhan dalam keluarga akan menimbulkan kurang seimbang baik dalam pelaksanaan tugas-tugas keluarga maupun dalam memikul beban social psikologis keluarga. Hal ini akan menimbulkan peserta didik kurang konsentrasi dalam belajar.
Iklim psikologis berkenaan dengan suasana efektif atau perasaan yang meliputi keluarga. Iklim psikologis yang sehat diwarnai oleh rasa sayang, saling mempercayai, keterbukaan, keakraban, rasaling memiliki dan sebebagainya antar anggota keluarga. Iklim psikologis yang sehat akan mendukung kelancaran dan keberhasilan belajar, sebab suasana yang demikian dapat memberikan ketenangan, kegembiraan, rasa percaya diri, dorongan untuk berprestasi.
Lingkungan sekolah juga memegang peranan penting bagi perkembangan belajar bagi peserta didik. Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik sekolah seperti sarana dan prasarana belajar yang ada, sumber-sumber belajar, media belajar dan sebagainya, lingkungan social yang menyangkut hubungan peserta didik dengan teman-temannya, guru-gurunya serta staf sekolah yang lain. Lingkungan sekolah juga menyangkut lingkungan akademis, yaitu suasana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, berbagai kegiatan kurikuler dan sebagainya.
Sekolah yang kaya denga aktivitas belajar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terkelola dengan baik, diliputi suasana akademis yang wajar, akan sangat mendorong semangat belajar peserta didik.
Lingkungan masyarakat dimana peserta didik atau individu berada juga berpengaruh terhadap semangat dan aktivitas belajarnya. Lingkungan masyrakat dimana warganya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, terdapat lembaga-lembaga pendidikan dan sumber-sumber belajar didalamnya akan memberikan pengaruh yang posiif terhadap semangat dan perkembangan belajar generasi mudanya.[19]
A. Sejarah Kebudayaan Islam
a. Perlunya Belajar Sejarah
Kehidupan dan manusia diawal millenium ketiga ini mengalami banyak perubahan. Dalam merespon fenomena itu manusia berpacu mengembangkan pendidikan baik dibidang ilmu-ilmu sosial, ilmu alam, ilmu pasti maupun ilmu-ilmu terapan. Namun bersama dengan itu muncul sejumlah kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya krisis politik, ekonomi, sosial, hukum, agama, golongan dan ras, akhirnya peran serta efektifitas pembelajaran di madrasah sebagai pemberi nilai spiritual terhadap kehidupan beragama masyarakat dipertanyakan terkecuali sejarah kebudayaan Islam.[20]
b. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam
Istilah sejarah berasal dari kata arab “syajarah” yang berarti “pohon” pengambilan istilah ini agaknya berkaitan dengan kenyataan bahwa “sejarah” setidaknya dalam pandangan orng pertama yang menggunakan kata ini menyangkut tentang “ syajarah al-nasab”, pohon geologis yang dalam masa sekarang ini bisa disebut sejarah keluarga (family historis), tetapi selanjutnya “sejara” dipahami makna yang sama dengan “tarikh” (Arab), “istoria (Yunani), “history” (Inggris), atau “Gescithte” (Jerman), yang secara sederhana berarti kejadian-kejadian yang menyangkut manusia dimasa silam.
Sejarah kebudayaan Islam adalah sejarah politik kaum muslim, khususnya ditimur tengah, sejarah kebudayaan Islam adalah sejarah bangkit dan jatuhnya dinasti-dinasti muslim, lebih sempit lagi sejarah kebudayaan Islam adalah sejarah elit. Sejarah para penguasa muslim, pada sisi lain kebudayaan dipahami sebagai “kesenian” dengan demikian pembahasan tentang “kebudayaan” Islam berkisar tentang aspek-aspek kesenian Islam, sejak dari lukis, kaligrafi dan semacamnya.
Dengan demikian, sejarah kebudayaan Islam adalah munculnya citra yang tidak selalu akurat tentang Islam dan muslimin bahwa mereka lebih terlibat dalam pertarungan kekuasaan yang tak ada habis-habisnya. Padahal sejarah Islam semata-mata sejarah politik, sejarah politik hanyalah sebagian kecil dari sejarah Islam secara keseluruhan yang mencakup kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan (dan tradisi intelektual) dalam pengertian seluas-luasnya.[21]
c. Tujuan dan Fungsi Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
1) Tujuan
Adapun tujuan pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah sebagai berikut:
a. Memberi pengetahuan tentang sejarah agama Islam dan kebudayaan Islam kepada para peserta didik, agar memiliki data yang obyektif dan sistematis tentang sejarah.
b. Mengapresiasi dan mengambil ibrah (bukti) nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah.
c. Menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan nilai-nila Islam berdasarkan cermatan atas fakta sejarah yang ada.
d. Membekali peserta didik untuk membentuk keperibadian melalui imitasi terhadap tokoh-tokoh teladan sehingga terbentuk keperibadian yang luhur.
2) Fungsi
Pembelajaran sejarah kebuyaan Islam setidaknya memiliki tiga fungsi sebagai berikut:
a. Fungsi edukatif
Melalui sejarah peserta didik ditanamkan menegakkan nilai, prinsip hidup yang luhur dan Islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
b. Fungsi keilmuan
Peserta didik memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
c. Fungsi transfomasi
Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam rancang transformasi masyarakat.[22]
C. Pengaruh Model Pemebelajar Advokasi Terhadap Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun cukup rumit sehingga menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Hasil belajar merupakan suatu hasil yang telah dicapai setelah mengalami proses belajar mengajar atau setelah mengalami interaksi dengan lingkungannya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan tahan lama.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dikemukakan bahwa peningkatan hasil belajar pada anak sangatlah penting. Namun usaha kearah itu haruslah lewat jalan atau suatu model pembelajaran agar dapat merangsang kemampuan anak dan dapat membuat kombinasi baru, sebagaimana kemampuan untuk respon anak agar giat belajar, serta merangsang anak agar berfikir.
Mengingat pentingnya meningkatkan hasil belajar peserta didik tersebut, maka di sekolah perlu disusun suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kreatifitas berfikir kritis peserta didik sehingga dalam proses belajar mengajar lebih hidup dan bermakna dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Model pembelajaran advokasi merupakan model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan proses belajar peserta didik yang memberikan kesempatan kepada peserta didik utuk menjadi advokat dari suatu pendapat tertentu yang bertalian dengan topik yang tersedia. Peserta didik menggunakan keterampilan riset, keterampilan analisis, dan keterampilan berbicara dan juga mendengar, sebagaimana mereka berpartisipasi dalam kelas pengalaman advokasi. Dan peseta didik dihadapkan dengan isu-isu kontroversial dan harus mengembangkan suatu kasus untuk mendukung pendapat mereka di dalam perangkat untuk tujuan-tujuan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran advokasi adalah model pembelajar yang mana mengajak kepada peserta didik turut aktif dalam kegiatan pembelajaran. sehingga diharapkan dengan menggunakan metode advokasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
[1] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), h. 228-229
[2] Ibid, h. 230
[3] Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung : Nusamedia, 2006), h. 141
[4] Oemar Hamalik, op.cit, h.231
[5] H. Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal Dalam Kegiatan Pembelajaran, (Jakarta : 2004), Cet ke- 4, h.77-78
[6] Burhan Nurgiyantoro, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Yogyakarta : BPFE, 1988), h. 58
[7] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), h. 36
[8] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1997), h. 208
[9] Dewi Ketut Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar, (Surabaya : Usaha Nasional, 1983), h. 17
[10] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 85
[11] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta :PT Raja Grafindo persada, 2009), h. 22
[12] Anas Sudijono, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), h. 50
[13] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), h. 53
[14] Oemar Hamalik, Op.Cit, h. 5
[15] Burha Nurgianto, Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, (Yogyakarta : BPPE-Yogyakarta), h. 22
[16] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, h. 88
[17] Muhammad Uzer Ustman, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,(Bandung : Remaja Rosdakarya, 199), h.3
[18] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Rieneka Cipta, 1996), h. 121
[19] Nana Syaodiah Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 162
[20] Depag RI, Standar Kompetensi Kurikulum, (Jakarta : Depdiknas, 2004), h. 64
[21] Azumadi Azra, Pendidikan Islam, (Ciputat : Kalimah, 2001), h. 117
[22] Permeg RI, Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam, (Surabaya : Depag RI), h. 77
Selengkapnya...
Label
- MODEL PEMBELAJARAN (2)
- PENDIDIKAN ISLAM (2)
Mengenai Saya
- DUNIA PENDIDIKAN
- sumenep, sumenep jawa timur, Indonesia
- enjoy, sopan dan siap bersaing
Selasa, 27 Juli 2010
MODEL PEMBELAJARAN ADVOKASI
MODEL PEMBELAJARAN ACCELERATED LEARNING
History Model Pembelajaran Accelerated Learning
Georgi Lozanov psikiater Bulgaria adalah pencestus gerakan Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat). Dia mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka, banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Lozanov merasa bahwa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria, dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran, dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Dia mendapati bahwa kombinasi musik, sugesti, dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif.[1]
read more..
Dave Meier mencoba mengembangkan pimikiran Lozanov dengan menulis buku The Accelerated Learning Handbook, yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000, mengajak kita untuk memperbaharui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik, organis bukan sekedar mekanis. Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) adalah cara belajar yang alamiah.
Model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu rangkaian pendekatan praktis dalam upaya meningkatkan hasil pembelajaran dan kondisi yang disukai oleh peserta didik. Sebelum kita membahas tentang model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat), ada lebih baiknya kita mengetahui definisi kata demi kata tersebut. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau dalam pembelajaran tutorial.[2] Accelerated Learning adalah dua kata yang digabung menjadi satu, yaitu Accelerated yang berasal dari bahasa inggris yang mempunyai arti dipercepat dan Learning yang mempunyai arti pembelajaran. Jadi Accelerated Learning dari segi bahasa berarti pembelajaran yang dipercepat.[3]
Sedangkan secara terminologi model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) adalah suatu pola yang digunakan dalam pembelajaran yang didesain sedemikian rupa sehingga dapat menggugah kemampuan belajar peserta didik, membuat belajar lebih menyenangkan dan lebih cepat. Cepat, disini diartikan dapat mempercepat penguasaan dan pemahaman materi pelajaran yang dipelajari, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk belajar lebih cepat. Materi pelajaran yang sulit dibuat menjadi mudah, sederhana atau tidak bertele-tele sehingga tidak menjadi kejenuhan dalam belajar. Karena keberhasilan belajar tidak ditentukan atau diukur lamanya kita duduk untuk belajar tetapi ditentukan oleh kualitas cara belajar kita.
Pembelajaran yang dirancang secara “fun” atau menyenangkan akan menimbulkan motivasi belajar peserta didik dan terus bertambah. Dengan demikian efektivitas belajar akan berjalan dengan baik. Dalam kaidah fiqih disebutkan “sesuatu, bila dengannya menjadi sempurna sebuah kewajiban, maka sesuatu itu adalah wajib”, sama halnya jika belajar merupakan kewajiban, sementara suasana belajar yang menyenangkan diperlukan untuk memotivasi peserta didik dalam belajar dan memudahkannya untuk menyerap beragam ilmu, maka pembelajaran yang menyenangkan menjadi sesuatu yang wajib dan tidak bisa dilepaskan dalam kegiatan belajar mengajar.[4]
Accelerated Learning adalah hasil yang dicapai, bukan metode yang digunakan. Karena metode apapun yang dapat mempercepat dan meningkatkan pembelajaran adalah dalam definisi ini, jadi tidak terfokus hanya pada metode tertentu, seperti permainan, musik, warna, aktivitas, dan sebagainya. Jadi metode apapun yang tidak mendorong pembelajaran yang cepat dan meningkat bukanlah model pembelajaran Accelerated Learning meskipun metode itu dianggap cerdik, atau kreatif dan menyenangkan.[5]
Pada intinya Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) adalah filosofi pembelajaran dan kehidupan yang mengupayakan demekanisasi dan memanusiawikan kembali proses belajar, serta menjadikannya pengalaman bagi seluruh tubuh, seluruh pikiran, dan seluruh pribadi. Oleh karena itu, Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) berusaha membentuk kembali sebagian besar keyakinan dan praktik yang membatasi, yang kita warisi dari masa lalu.
Bobbi DePorter menganggap Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) dapat memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang sekilas tampak tidak mempunyai persamaan, misalnya hiburan, permainan, warna, cara bepikir positif, kebugaran fisik dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.[6]
1. Prinsip Pokok Model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat)
Untuk mendapatkan manfaat optimal dari penggunaan model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat), sangat penting kita benar-benar memahami prinsip-prinsip yang melandasinya. Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat), tidak akan memberi manfaat kepada mereka yang memisahkan metode-metodenya dari fondasi ideologisnya, dan mengabaikan prinsip-prinsip yang mendasari teknik tersebut. Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah:
a. Belajar Melibatkan Seluruh Pikiran dan Tubuh. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar, rasional, memakai “otak kiri”, dan verbal), tetapi juga melibatkan seluruh tubuh atau pikiran dengan segala emosi, indra dan sarafnya. Murid diajak terlibat penuh dalam prosese belajar-mengajar. Belajar bukan mengumpulkan informasi pasif tapi menciptakan pengetahuan secara aktif.
b. Belajar adalah Berkreasi, bukan Mengonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh peserta didik, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh peserta didik.
c. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya dari pada beberapa individu yang belajar sendi-sendiri, karena kerja sama diantara mereka mempercepatnya. Kerja sama dapat menghilangkan hambatan mental akibat terbatasnya pengalaman dan cara pandang yang sempit.[7]
d. Pembelajaran Berlangsung Pada Banyak Tingkatan Secara Simultan. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linier, melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar, dan bawah sadar, mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor, indra dan tubuh seseorang.
e. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan umpan balik). Belajar paling baik adalah belajar dalam konteks. Hal-hal yamg dipelajari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kita belajar berenang dengan berenang, cara bernyanyi dengan bernyanyi dan lain sebagainya. [8]
f. Emosi Positif Sangat Membantu Peserta didik. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Perasaan negatif menghalangi belajar, dan perasaan positif mempercepatnya.
g. Otak-Citra Menyerap Informasi Secara Langsung dan Otomatis. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra dari pada prosesor kata. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan dari pada prosesor kata.[9]
Pendekatan Model pembelajaran Accelerated Learning
Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak ke sana kemari. Akan tetapi menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Pemilik konsep ini, Dave Meier, menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual dan Intellectual (SAVI). Somatic dimaksudkan sebagai learning by doing (belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory adalah learning by talking and hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan menggambarkan). Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi ).
a. Belajar Somatis
“Somatis” berasal dari bahasa yunani yang berarti tubuh-soma (seperti dalam psikosomatis). Jadi, belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar. Penelitian neurologist telah membongkar keyakinan kebudayaan barat yang keliru bahwa pikiran dan tubuh adalah dua entitas yang terpisah. Temuan mereka menununjukkan bahwa pikiran tersebar diseluruh tubuh. Intinya tubuh ADALAH pikiran. Pikiran adalah tubuh. Jadi, dengan menghalangi peserta didik somatis menggunakan tubuh mereka sepenuhnya dalam belajar, kita menghalangi fungsi pikiran mereka sepenuhnya. Untuk merangsang hubungan pikiran tubuh, ciptakanlah suasana belajar yang dapat membuat orang bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu kewaktu. [10]
b. Belajar Auditori
Belajar auditori adalah belajar dengan berbicara dan mendengar. Dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi auditori yang kuat dalam diri pembelajaran, carilah cara untuk mengajak mereka untuk membicarakan apa yang sedang mereka pelajari. Ajak mereka berbicara saat mereka memecahkan masalah, mengumpulkan informasi, membuat tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri merka sendiri. Disamping itu bisa juga dengan meminta peserta didik untuk berpasang-pasangan memperbincangkan secara terperinci apa yang baru saja mereka pelajari dan bagaimana mereka akan menerapkannya.[11]
Guru hendaknya mengetahui ciri-ciri anak auditori. Dalam buku Accelerated Learning yang lain disebutkan, bahwa tipe anak auditori adalah:
1) Suka mendengar radio, musik, sandiwara drama. (anak-anak auditori suka cerita yang dibacakan kepadanya dengan berbagai ekspresi).
2) Ingat dengan baik nama orang. Bagus dalam mengingat fakta. Suka berbicara dan punya perbendaraan kata yang luas.
3) Menerima dan memberikan penjelasan arah dengan kata-kata (verbal). Senang menerima instruksi secara verbal.
4) Mengungkapkan emosi secara verbal melalui perubahan nada bicara atau vokal.
5) Aktivitas kreatif: menyanyi, mendongeng (mengobrol apa saja), bermain musik, membuat cerita lucu dan lain sebagainya.
6) Berbicara dengan kecepatan sedang. Suka bicara bahkan dalam kelas.
7) Dalam keadaan diam suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau bersenandung.
8) Cenderung mengingat dengan baik dan menghafal kata-kata dan gagasan-gagasan yang pernah diucapkan.[12]
c. Belajar Visual
Belajar visual adalah belajar dengan mengamati dan menggambarkan. Ada beberapa hal yang dapat guru manfaatkan untuk membuat pembelajaran lebih visual, diantaranya adalah: bahasa yang penuh gambar, bahasa tubuh yang dramatis, cerita yang hidup, peripheral ruangan, dekorasi berwarna-warni dan lain sebagainya.[13]
Menurut Colin Rose, tipe anak visual diataranya dapat dilihat dari:
1) Suka membaca (menyukai atau menikmati bacaan), menonton televisi, menonton film. Lebih suka memperhatikan ekspresi wajah ketika berbicara dengan orang lain atau membacakan bacaan kepadanya.
2) Mengingat orang melalui penglihatan.
3) Kalau memberi atau menerima penjelasan arah lebih suka memakai peta atau gambar.
4) Menyatakan emosi melalui ekspresi muka.
5) Aktivitas kreatif: menulis, menggambar, melukis, merancang (mendisain).
6) Cenderung berbicara cepat, tetapi mungkin cukup pendiam di dalam kelas.
7) Berhubungan dengan orang lain melalui kontak mata dan ekspresi wajah.
8) Saat diam suka melamun atau menatap ke angkasa.
9) Punya ingatan visual bagus, ingat dimana meninggalkan sesuatu beberapa hari yang lalu.[14]
d. Belajar Intelektual
Menurut Dave Meier yang dimaksud dengan “intelektual” disini bukanlah pendekatan belajar tanpa emosi, tidak berhubungan, rasionalistis, “akademis”, dan terkotak-kotak, melainkan menunjukkan apa yang dilakukan peserta didik dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tesebut.
Aspek intelektual dalam belajar akan terlatih jika guru mengajak peserta didik telibat dalam aktivitas: memecahkan masalah, menganalisis pengalaman, melahirkan gagasan kreatif, mencari dan menyaring informasi, merumuskan pertanyaan dan menciptakan makna pribadi.
Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya orang dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar jauh lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi (I).[15]
Empat Tahap Model Pembelajaran Accelerated Learning
Secara teknik, terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam mengoperasikan model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat). Diantara tahapan-tahapan tersebut adalah:
Tahap 1: Teknik Persiapan
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta didik untuk belajar. Ini adalah langkah penting dalam belajar. Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan bisa berhenti sama sekali. Tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat para peserta didik, menciptakan peserta didik aktif yang tergugah untuk berpikir, belajar, mencipta, dan tumbuh, mengajak orang keluar dari keterasingan dan masuk kedalam komunitas belajar, dan menyingkirkan rintangan belajar, seperti tidak merasakan adanya manfaat pribadi, tidak peduli dan benci pada topik pelajaran, merasa sangat bosan dan lain sebagainya.
Semua rintangan ini dan yang lainnya dapat menyebabkan stres, dan kemrosotan tajam dalam kemampuan belajar. Menghilangkan atau mengurangi rintangan-rintangan ini akan menghasilkan kemampuan belajar yang semakin meningkat setiap waktu, yaitu diantaranya dengan:
1) Memberikan sugesti (asumsi) positif, karena asumsi negatif cenderung menciptakan pengalaman negatif, begitupun sebaliknya. Contoh sugesti positif diantaranya adalah: setelah menguasai materi ini, kalian akan mampu….., ini akan sangat penting bagi kalian, belajar hal ini sih keciiil! Dan lain sebagainya.
2) Menciptakan lingkunagan fisik yang positif, karena jika lingkungan fisik mengilhami timbulnya perasaan negatif dan mengingatkan orang (secara sadar atau tidak sadar) pada pengalaman negatif yang tidak manusiawi, pastilah lingkungan itu akan memberi pengaruh negatif pada pembelajaran. Ada banyak cara untuk menciptakan lingkungan fisik yang positif, diantaranya adalah: sebaiknya guru tidak membuat lingkungan belajar yang menyerupai ruang kelas tradisional, melainkan yang memberi kesan gembira, positif dan membangkitkan semangat lingkungan yang dapat menimbulkan asosiasi positif, seperti membagi ruang kelas menurut fungsinya: susunan tempat duduk seperti gedung teater untuk penyampaian materi, meja bundar untuk untuk tugas kelompok. Dan guru dapat menghiasi ruang belajar dengan periferal, yaitu apa saja dalam lingkungan yang dapat menambah warna, keindahan, minat, serta rangsangan, seperti hiasan dinding dan lain sebagainya.
3) Tujuan yang jelas dan bermakna. Peserta didik memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu pelajaran dan apa yang akan dapat mereka lakukan (atau peroleh) sebagai hasilnya. Guru dapat menjelaskan ini dengan kata-kata, gambar, contoh, demo atau apa saja yang dapat membuat tujuan itu tampak nyata dan konkret bagi peserta didik.
4) Manfaat bagi peserta didik. Ada garis halus antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan “apa”, sedangkan manfaat dikaitkan dengan “mengapa”. Peserta didik dapat belajar paling baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka secara pribadi. Oleh karena itu, penting sekali untuk sejak awal menggunakan manfaat agar peserta didik merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif.
5) Sarana persiapan peserta didik sebelum pembelajaran, yang berisi aneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap untuk belajar. Sarana persiapan belajar dapat berupa benda yang berkaitan dengan isi pelajaran dan lain sebagainya.
6) Lingkungan sosial yang positif. Untuk membantu mempersiapkan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang optimal, ciptakanlah lingkungan kerja sama sejak awal. Kerja sama antar peserta didik menciptakan sinergi manusiawi yang memungkinkan berbagai wawasan, gagasan, dan informasi mengalir bebas. Dan itu dapat meningkatkan pengalaman belajar bagi semua peserta didik.
7) Keterlibatan penuh peserta didik. Penting sekali peserta didik diajak terlibat sepenuhnya. Belajar bukanlah aktivitas yang hanya bisa ditonton, melainkan sangat membutuhkan peran serta semua pihak. Bagaimanapun juga, belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif, melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan ketrampilan.
8) Rangsangan rasa ingin tahu. Merangsang ingin tahu peserta didik sangat membantu upaya mendorong peserta didik agar terbuka dan siap belajar, membuat mereka kembali hidup dan membuat mereka siap melebihi diri mereka sebelumnya-dan inilah inti pembelajaran yang baik. Guru dapat menggugah rasa ingin tahu peserta didik diantaranya dengan: memberi masalah untuk dipecahkan secara berkelompok, memainkan permainan tanya jawab, menyuruh peserta didik menyusun berbagai pertanyaan atau mengajukan pemasalahan satu sama lain.[16]
Tahap 2: Teknik Penyampaian
Tahap penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan peserta didik dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik. Tahap penyampaian dalam belajar bukan hanya sesuatu yang dilakukan fasilitator, melainkan sesuatu yang secara aktif melibatkan peserta didik dalam menciptakan pengetahuan di setiap langkahnya.
Tujuan tahap penyampaian adalah membantu peserta didik menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar. Guru dapat melakukan ini dengan: pengamatan terhadap fenomena dunia nyata, presentasi interaktif, berlatih memecahkan masalah, pengalaman belajar konstektual dari dunia nyata dan lain sebagainya.
Tahap 3: Teknik Pelatihan
Tahap pelatihan (integrasi) merupakan intisari Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat). Tanpa tahap penting ini, tidak ada pembelajaran. Bagaimanapun, apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan peserta didiklah yang menciptakan pembelajaran, dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh instruktur. Peranan instruktur adalah mengajak peserta didik berfikir, berkata, dan berbuat-menangani materi belajar yang baru dengan cara yang dapat membantu mereka memadukannya ke dalam struktur pengetahuan, makna dan keterampilan internal yang sudah tertanam dalam diri. Pembelajaran adalah perubahan. Jika tidak ada waktu berubah, berarti tidak ada pembelajaran yang sejati.
Tujuan tahap pelatihan adalah membantu peserta didik mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Guru dapat melakukan ini dengan: aktivitas memproses peserta didik, memberi umpan balik secara langsung, simulasi dunia nyata, latihan belajar lewat praktik, dialog secara bepasangan dan berkelompok.
Tahap 4: Teknik Penampilan
Belajar adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan, dan kearifan menjadi tindakan. Penting untuk disadari bahwa tahap ini bukan hanya tambahan, melainkan menyatu dengan seluruh proses belajar.
Tujuan tahap penampilan hasil adalah membantu pelajar menerapkan dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga pembelajaran tetap melekat dan prestasi terus meningkat. Dalam istilah pertanian penampilan hasil sama dengan panen.[17]
2. Sarana dan Teknik Tambahan Model Pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat)
Adapun sarana yang dapat digunakan dalam model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) adalah:
a. Musik Untuk Pembelajaran
Musik adalah bagian dari budaya dan ekspresi manusia paling tinggi. Ia memungkinkan kita mengalami keterhanyutan dan keterhubungan sesuatu yang lebih besar dan agung. Musik mempengaruhi perasaan. Dan perasaan mempengaruhi pembelajaran. Jenis musik yang tepat cenderung mengendurkan sekaligus menggugah otak dan seluruh sistem saraf. Jadi, musik yang dimanfaatkan secara tepat dapat mengaktifkan kemampuan total mereka lebih banyak karena mereka mengerahkan pikiran sepenuhnya untuk belajar. Tidak ada musik standar yang tepat untuk ruang kelas. Musik yang tepat adalah musik yang dapat membuat pendengarnya tenang, waspada, terbuka, dan optimal dalam belajar.
Musik tidak harus selalu ada agar pembelajaran dapat berlangsung, namun musik dapat meningkatkan pembelajaran dengan berbagai cara, seorang guru dapat menggunakan musik untuk:
1) Menghangatkan, membuat manusiawi, dan memberdayakan lingkungan belajar.
2) Membuat pikiran tenang dan terbuka untuk belajar.
3) Menciptakan perasaan dan asosiasi positif dalam diri peserta didik.
4) Menciptakan “peningkatan” di otak.
5) Membantu mempercepat dan meningkatkan proses belajar. [18]
Menurut Bobby DePorter dalam buku Quantum Teaching, musik berpengaruh pada guru dan peserta didik. Sebagai seorang guru, Anda dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental peserta didik, dan mendukung lingkungan belajar. Penelitian menunjukkan bahwa blajar lebih mudah dan cepat jika pelajar berada dalam kondisi santai dan reseptif. Detak jantung orang dalam keadaan ini adalah 60 sampai 80 kali permenit.[19]
Cara memanfaatkan musik untuk membantu pembelajaran di ruang kelas diantaranya adalah:
1) Pendahuluan untuk pembelajaran. Memainkan musik ketika peserta didik tiba di suatu peistiwa pendidikan dapat memberi pengaruh menggembirakan, menghangatkan lingkungan, menggugah minat, dan menenangkan pikiran.
2) Istirahat. Musik disaat istirahat membantu mempetahankan lingkungan belajar yang menyenangkan, membuar orang tetap santai sekaligus bersemangat.
3) Pratinjauan konser. Materi yang harus dipelajari dapat ditinjau lebih dahulu dengan iringan musik.
4) Tinjauan konser. Guru dapat menggunakan musik untuk mengiringi tinjauan materi belajar via OHP, atau petunjukan hasil olahab computer.
5) Presentasi. Musik dapat digunakan sebagai latar belakang pembacaan cerita, demonstrasi, atau presentasi dengan slid, OHP, video, atau computer.
6) Berlatih belajar. Musik latar belakang yang tepat dapat digunakan selama berlangsungnya latihan belajar individual, berpasangan, atau berkelompok (tes, pemecahan masalah, pengungkapan gagasan, dan lain sebagainya).
7) Penutup. “Musik selamat jalan” yang tepat dapat menciptakan lingkungan yang ramah dan menggugah semangat untuk menutup program dan bertukar salam perpisahan.[20]
b. Teknik Mengajukan Pertanyaan
Kemapuan bertanya menunjukkan pikiran yang selalu ingin tahu dan merupakan tanda dari peserta didik yang baik. Karena kecerdasan terlihat bukan hanya dengan memberi jawaban yang benar, melainkan dengan lebih mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Mengajak peserta didik bertanya tak henti-hentinya akan berpengaruh positif pada pembelajaran mereka serta prestasi kerja mereka kemudian.
Menurut Elaine B. Johnson dalam Contextual Teaching and Learning, untuk bisa berhasil pelajar haruslah bisa mengajukan pertanyaan-petanyaan yang menarik. Ketakjuban adalah cikal bakal kreativitas. Pertanyaan-pertanyaan yang tajam dapat menyempurnakan keyakinan dan menjelaskan berbagai kejadian. “Untuk bisa mengerti, peserta didik harus mencari makna. Untuk mencari sebuah makna, peserta didik harus mempunyai kesempatan untuk membentuk dan mengajukan pertanyaan”.[21]
Ada beberapa cara untuk mendorong peserta didik meningkatkan pembelajaran dengan bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui, diantaranya adalah:
1) Pertanyaan Maraton. Kelompokkan orang berpasangan. Tunjuk seorang mitra sebagai “A” dan yang lain “B”. Suruh “A” bertanya kepada “B” nonstop selama lima menit, satu pertanyaan disusul pertanyaan yang lain. Setelah waktu yang ditentukan habis, ajaklah pasangan itu bertukar peran. Seluruh kelas bersama fasilitator dapat menjawab pertanyaan yang belum terjawab.
2) Pertanyaan yang ditempelkan. Bagikan beberapa kertas tempel besar, dan minta peserta didik menuliskan pada setiap kertas itu satu pertanyaan mengenai materi belajar. Minta mereka menempelkan pertanyaan secara anonim pada papan pertanyaan di dinding atau pada papan tempel. Saat istirahat, mintalah peserta didik meneliti pertanyaan-petanyaan tersebut dan ambil yang dapat mereka jawab. Setelah istirahat, suruh peserta didik membaca di depan kelas pertanyaan yang telah mereka ambil dan memberikan jawaban.
3) Lemparan pertanyaan. Bagilah kelas menjadi dua tim. Suruh setiap tim menyusun 10 atau 20 pertanyaan mengenai materi belajar untuk tim lawan. Lalu, suruh kedua tim bediri dan saling melemparkan pertanyaan satu demi satu. Jika satu tim dapat menjawab pertanyaan dalam waktu yang telah ditentukan, mereka mendapatkan nilai.[22]
c. Permainan Belajar
Seperti semua teknik belajar, permainan bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan sekedar sarana untuk mencapai tujuan, yaitu untuk meningkatkan pembelajaran. Permainan belajar, jika dimanfaatkan secara bijaksana, dapat menghilangkan stres dalam lingkungan belajar, mengajak peserta didik terlibat penuh dan meningkatkan proses belajar. Model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) tidak selalu membutuhkan permainan, dan permainan sendiri tidak selalu mempercepat pembelajaran. Akan tetapi, permainan yang dimanfaatkan dengan bijaksana dapat menambah variasi, semangat, dan minat pada sebagian program belajar.
Permainan dapat digunakan pada tahap pembelajaran mana saja. Misalnya:
Tahap Persiapan: permainan kelompok atau sekelas dapat digunakan pada awal masa pelatihan untuk mengukur pengetahuan yang sudah dimiliki, menggugah rasa ingin tahu, dan mmbangun minat. Contohnya: permainan kuis berdasarkan berdasar-tim, permainan memecahkan masalah.
Tahap Penyampaian: permainan berkelompok dapat digunakan sebagai sarana perjumpaan ketika kelompok dapat mengakses bahan belajar dalam proses menjawab pertanyaan. Contohnya: permaianan acara kuis TV, 20 pertanyaan.
Tahap Pelatihan: permainan dapat digunakan untuk mempraktikkan pengetahuan atau keterampilan baru dan menguatkan pembelajaran awal. Contohnya: permaianan acara kuis TV, permaianan papan, permaianan kartu, famili 100.
Tahap Penampilan hasil: permainan berpasangan, berkelompok, atau sendiri-sendiri dapat digunakan untuk menguji pengetahuan atau menerapkan keterampilan yang baru saja dipelajari. Contohnya: permainan tanya jawab, permaianan memecahkan masalah, permaianan mengakses informasi.[23]
d. Pencitraan dan Belajar
Pencitraan (imagery) adalah sarana penting lain yang dapat membantu meningkatkan kecepatan dan daya tahan sebuah pembelajaran. Pencitraan bisa bersifat auditori, visual, fisik, atau internal dan bentuknya bisa bermacam-macam. Citra adalah penyampai makna yang lebih hebat daripada kata. Ini karena otak manusia pada dasarkan merupakan prosessor citra, bukan prosessor kata. Citra itu konkret sedangkan kata tecetak bersifat abstrak dan otak jauh lebih sulit tetap menyimpannya. Jenis-jenis citra ada banyak, diantaranya adalah:
Metafora dan Analogi. Ketika membantu peserta didik menangkap suatu gagasan, gunakanlah sesuatu yang dikenal untuk menjelaskan sesuatu yang tidak dikenal. Carilah cara untuk menggambarkan konsep baru itu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang telah dikenal peserta didik dari alam atau dalam kehidupan sehari-hari.
Sarana Pengingat. Sarana pengingat bisa berbentuk irama, akronim, gerakan fisik, akrostik (susunan kata-kata yang seluruh huruf awal atau huruf akhir tiap-tiap barisnya merupakan sebuah kata atau nama), misalnya akronim Mejikuhibiniu membantu mengingat warna-warna pelangi, yaiti merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
Cerita. Sejak zaman kuno, cerita telah menjadi sarana pengingat yang paling luas digunakan. Cerita adalah serangkaian citra yang berhubungan yang secara langsung menyentuh otak citra. Cerita merupakan salah satu metode terbaik yang dapat guru gunakan untuk membuat sesuatu yang abstrak menjadi konkret, dan karenanya mudah diingat. Jenis cerita yang tepat dapat menambah nuansa manusiawi pada subyek yang sebenarnya kering, dan demikian dapat membantu pembelajaran.
Bahasa Tubuh. Guru dapat menggunakan tubuh untuk menggambarkan gagasan yang akan dikemukakan. Ekspresi wajah, gerak isyarat yang berlebihan, dan geakan badan dapat memberikan gambaran tentang apa yang sedang Anda bicarakan.[24]
e. Cahaya Alam
Cahaya alam adalah cahaya berspektrum penuh, sedangkan cahaya buatan bola lampu neon yang menyinari dari kebanyakan bangunan kantor dan ruang pelatihan menghasilkan spectrum cahaya yang jauh lebih sempit. Kombinasi spektrum cahaya yang sempit dan getaran terus-menerus dapat meninbulkan stres dan menambah kelelahan jika seseorang tidak mendapatkan cahaya alam untuk jangka waktu yang lama. Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa paparan pada cahaya alam memberi pengaruh positif pada kesehatan dan kesejahteraan emosional manusia. Bahkan pada pembelajaran.
Suatu telaah yang disponsori oleh California Board of Energy Efficiency dan Pacific Gas and Electric membuktikan bahwa peserta didik yang berada di ruang kelas yang memiliki jendela di dinding dan langit-langit, belajar lebih cepat dan mendapat nilai lebih tinggi pada tes standar dibandingkan dengan mereka yang belajar di ruangan tanpa jendela atau ruangan dengan pencahayaan yang buruk.
Buatlah pelatihan belajar yang mengajak peserta didik terpapar cahaya, akan tetapi jangan berlebihan. Karena ruangan yang terang tidak akan menjadikan seseorang jenius dadakan, dan ruangan yang redup tidak akan menjadikan seseorang idiot, tetapi lingkungan yang mendapat penerangan layak, disertai banyak sentuhan model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) lainnya, dapat meningkatkan kesehatan fisik dan emosi dan memberi sumbangan positif pada pembelajaran.[25]
f. Aroma
Ketika seseorang memasuki lingkungan belajar yang tak terpelihara dan berbau pengap, pasti mereka tidak ingin berada di sana. Akan tetapi jika mereka harus berada di sana, pasti mereka mendadak merasa tidak diperlakukan manusiawi, dihukum, tidak diperdulikan.
Apa yang kita cium memicu respons seperti kecemasan, kelaparan, ketenangan, depresi dan lain sebagainya. Menurut Hirsch (1993), sebagaimana yang dikutip oleh Bobby DePorter, manusia dapat meningkatkan kemampuan berfikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan wangi bunga tertentu. Tidak aneh jika daerah penciuman merupakan reseptor bagi endorfin yang menyuruh tanggapan tubuh menjadi merasa senang dan sejahtera.[26]
Pendekatan aromaterapi ini ada manfaatnya juga, asalkan tidak dibesar-besarkan menjadi satu-satunya jawaban bagi kesehatan dan kebahagiaan. Namun, wewangian benar-benar dapat berpengaruh positif pada pemrosesan mental, sebagaimana yang telah kita ketahui dari pengalaman. Seperti bau jeruk dapat menghangatkan, bahagia, teguh, cerah, menguatkan, dan bau melati dapat menggembirakan, memikat, ramah dan intuitif. Jadi ketika Anda menerapkan aroma untuk lingkungan pembelajaran, gunakan sentuhan lembut lilin wangi, semprotan wangi yang samara-samar. Akan tetapi jangan berlebihan, karena penggunaan aroma telalu berlebihan terbukti dapat meracuni orang dan membuat mereka tercekik.[27]
3. Evaluasi Model Pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat)
Evaluasi terhadap pembelajaran dan program belajar itu sendiri harus merupakan bagian yang normal dalam setiap program. Alasan melakukan evaluasi adalah senantiasa meningkatkan program belajar sehingga program itu dapat senantiasa meningkatkan pembelajaran.
Evaluasi model pembelajaran Accelerated Learning (pembelajaran yang dipercepat) itu bisa dilihat dari cara mengevaluasi program belajar dan evaluasi dari suatu keberhasilan program, yang dibagi menjadi empat tingkat:
Evaluasi Tingkat 1: Ujian tertulis. Ujian tertulis dapat menunjukkan reaksi pembelajar terhadap suatu program, tetapi itu tidak dapat dipercaya seratus persen sebagai ukuran pembelajaran yang sebenarnya.
Jika seorang guru akan menggunakan evaluasi murid, salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuat proses itu manusiawi dan menjadikannya sarana yang lebih baik untuk meningkatkan program belajar adalah mengelompokkan pembelajar dalam beberapa tim dan kemudian memberi mereka waktu kira-kira lima menit untuk mendapatkan tiga atau lebih gagasan kreatif untuk meningkatkan program dan pengalaman belajar. Jadi pembelajar yang kini menjadi rekan-merancang Anda, akan menyampaikan berbagai gagasan yang dapat segera Anda gunakan untuk meningkatkan program pelatihan. Anda akan tercengang mengetahui betapa banyaknya gagasan yang baik dan berguna yang dapat mereka berikan.
Evaluasi Tingkat 2: Menguji ingatan jangka pendek mengenai informasi atau pelaksanaan suatu keterampilan. Ini akan memberi guru cukup banyak informasi, tetapi tidak banyak dipercaya sepenuhnya juga. Kadang-kadang pembelajar yang lulus tes dengan baik justru gagal dalam pekerjaan. Dan kadang-kadang, pembelajar yang ketakutan menghadapi tes, yang tidak mengerjakan tes dengan baik, ternyata meraih prestasi tinggi dalam pekerjaan.
Evaluasi Tingkat 3: Mengukur prestasi kerja. Akan baik jadinya jika dalam rancangan seorang guru terdapat beberapa kriteria untuk melakukan evaluasi Tingkat 3. Data yang dihasilkan dari jenis evaluasi ini barangkali merupakan evaluasi pembelajaran yang lebih baik dari pada Tahap 2 sebab evaluasi tersebut menguji transfer pembelajaran jangka-panjang.
Evaluasi Tingkat 4: Indikator “Memangnya mengapa ” mencoba meraih nilai dan manfaat bagi bisnis organisasi, budaya organisasi dan lain-lain, yang diupayakan program belajar. Informasi ini kadang-kadang sulit didapat, tetapi inilah yang paling bermanfaat untuk menentukan keberhasilan suatu program.[28]
[1] Dave Meier, The Accelerated Learning Handbook….., 49.
[2] Trianto, Model pembelajaran Terpadu……., 1.
[3] Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2005), 33.
[4] Imam Maliki Ralibi, Fun Teaching (Cikarang: Duha Hasanah, 2008), 24.
[5] Dave Meier, The Accelerated Learning……., 37.
[6] Bobby DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (Bandung: Kaifa, 2000), 14.
[7] Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan Dan Bermakna, diterjemahkan oleh: Ibnu Setiawan, (Bandung: MLC, Cet. III, 2007), 164.
[8] Dave Meier, The Accelerated Learning……., 58.
[9] Ibid,54.
[10] Dave Meier, The Accelerated……., 92.
[11] Ibid, 95.
[12] Colin Rose, Malcom J Nichol, Accelerated Leraning For The 21 Century: Cara Belajar Cepat Abad XXI, diterjemah oleh Dedy Ahimsa, (Bandung: Nuansa, Cet. IV, 2003), 133.
[13] Dave Meier, The Accelerated Learning…, 97.
[14] Colin Rose, Malcom J Nichol, Accelerated Leraning…..,, 134.
[15] Dave Meier, The Accelerated……, 100.
[16] Ibid, 109.
[17] Dave Meier, The Accelerated……..,157.
[18] Ibid, 1776.
[19] Bobby DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie, QuantumTeaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang Kelas,diterjemah oleh Ary Nilandari, (Bandung: Kaifa, Cet. II, 2000 ), 73.
[20] Dave Meier, The Accelerated……, 177.
[21] Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning……., 159.
[22] Dave Meier, The Accelerated……,202.
[23] Ibid, 207.
[24] Dave Meier, The Accelerated……, 219.
[25] Ibid, 231.
[26] Bobby DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie, QuantumTeaching……., 72.
[27] Dave Meier, The Accelerated…….., 235.
[28] Ibid, 300.
Selengkapnya...